banner 160x600
banner 160x600
banner 1100x250

Kisah Kerbau Bule Kraton Surakarta yang Dikeramatkan Menghentikan Wabah

Mdi19.com, Terkini – Bagi masyarakat Jawa malam 1 Muharram atau 1 Syuro punya arti tersendiri. Malam itu sebagai momentum intropeksi diri. Salah satunya tirakat dan lek-lekan atau tidak tidur semalam suntuk untuk mengintropeksi setahun yang dilewati dan setahun kedepan.

Tak terkecuali di Solo tepatnya Keraton Surakarta pada malam 1 Suro (Muharram) maka akan menjumpai “Si Bule” yaitu seekor kerbau warna putih yang dianggap keramat dan dipelihara oleh Keraton Solo.

Cerita tersiar ketika kerbau bule bernama Nyai Manis Sepuh itu mati. Keraton Kasunan Surakarta meyakini bahwa kerbau bule tersebut keturunan Nyai Slamet. Menurut pihak keraton dan masyarakat sekitar ada cerita menarik di balik kekeramatan Nyai Manis Sepuh.

Budayawan Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Puger, mengatakan sejarah kerbau tersebut bermula sejak Kerajaan Demak. Saat itu, sedang terjadi wabah atau pandemi, mirip dengan keadaan sekarang. Petinggi kerajaan dengan para wali kemudian mencari solusi untuk menghentikan wabah. Akhirnya mereka sepakat untuk mengorbankan kerbau.

Menurut Puger cerita Ini diambil dari kisah perang Baratayudha ketika Yudhistira diperintahkan Bathara Guru mengorbankan kuda untuk bersih-bersih, sedangkan di Demak diputuskan kerbau. Mengorbankan kerbau disebut sebagai tradisi Mahesa Lawung dan masih dilakukan hingga saat ini. Sejak saat itu kerbau menjadi peliharan turun-temurun di keraton.

“Jadi turun-temurun sejak Demak sampai Surakarta. Selain itu, kerbau ini juga diberi oleh Bupati Ponorogo pada saat berdirinya Surakarta dan terus dipelihara sampai sekarang,” ujar dia.

Kerbau berwarna putih ini selalu berada pada barisan terdepan saat kirab pusaka malam 1 Sura (Muharram). Puger mengatakan hal tersebut juga terkait dengan sejarah masa Demak.

“Karena kerbau saat itu telah dikorbankan sehingga wabah berakhir, maka setiap malam 1 Sura ikut dikirab bersama pusaka. Ini berarti doa agar selalu selamat,” ujarnya.

Masyarakat pun menganggap Kebo Kyai Slamet sebagai kerbau keramat. Bahkan sesaat setelah kerbau lewat dalam kirab malam 1 Sura, sebagian masyarakat menyimpan kotoran kerbau untuk dibawa pulang.

Terutama warga masyarakat yang hidup dari bercocok tanam, kotoran kerbau itu digunakan sebagai pupuk. Diyakini tanaman mereka dapat tumbuh subur. Perawatan kandang serta memantau kesehatan kerbau menjadi tugas utama para abdi dalem. Aktivitas tersebut dilakukan jelang kirab Pusaka Malam 1 Suro.

Kerbau bule keramat itu di beri makan sehari dua kali, yakni dengan ketela dan jagung. Setiap harinya warga juga ikut memberi makan sayuran. Kandang kerbau pun seakan jadi tempat wisata bagi warga sekitar.

Perlu diketahui Nyai Sepuh Manis, kerbau ini mati karena sakit radang lambung. Ada yang unik,kerbau ini dikuburkan dengan tradisi keraton, yakni dimandikan, dikafani, hingga didoakan bersama.

Saat ini jumlah kerbau bule Keraton Solo menjadi 21 ekor setelah matinya kerbau tersebut..Dan mereka ditempatkan terpisah dalam tiga kandang di Alun-alun Kidul.

Reporter : Trisna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 1100x250