banner 160x600
banner 160x600
banner 1100x250

Prof Tariq Ramadhan : Islamic Phobia dan Bagaimana Seharusnya Umay Islam Menyikapinya

M19NEWS, Jakarta – Sejarah umat manusia mengalami perubahan yg sangat luar biasa dalam 100 tahunan ini.

Perubahan itu dalam hal dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, tatanan sosial politik, sosial ekonomi, budaya, demografi, hukum, lingkungan hidup dan aspek-aspek lainnya di hampir semua sisi bidang.

Kemudian efeknya, bertambahnya pemahaman atau kesadaran tentang pentingnya harkat dan martabat manusia, pergaulan yg lebih dekat antar umat beragama, munculnya konsep negara-bangsa yang berdampak pada kesetaraan gender dan begitu seterusnya.

Perubahan sosial yang begitu dahsyat itu berpengaruh luar biasa dalam mengubah pola pikir dan pandangan dari sisi keagamaan di lingkungan Islam maupun umat beragama lainnya, meski perubahan tidak selamanya bermakna positif tetapi juga negatif.

Terjadinya kerusakan ekologi (juga perubahan iklim), tindak kekerasan atas nama agama dan negara, etnis dan lain-lain.

Nah, melihat hal yang demikian, Lembaga Pendidikan Pesantren Al Zaytun, Indramayu, menghadirkan seorang tokoh pendidik bidang sosial budaya yang kontemporer dari Oxford University, Inggris. Prof. Tariq Ramadhan.

Dalam memberikan pemikirannya selama hampir 1,5 jam, Prof Tariq mengurai tentang ‘Islamic Phobia’ yang kini melanda dunia.

Masalah Islamic Phobia atau phobia (ketakutan/anti/alergi) kepada Islam, yang melanda masyarakat Internasional saat ini, dalam pandangan Prof. Tariq Ramadhan, pada sesi ‘ngabuburit’ Topo Broto via zoom yg diselenggarakan oleh Pesantren Al Zaytun, Indramayu, Minggu 17 April 2022.

Dijelaskan bahwa Semua berpulang pada diri kita sendiri sebagai umat Islam, artinya, harus berimbang dalam menyikapi setiap perbedaan.
Prof. Tariq mengajak kita umat beragama seluruh dunia untuk melihat sejarah.

Peran aktif Pemerintah di setiap negara sangat penting untuk mengedepankan persamaan hak, penghapusan rasisme serta membudayakan toleransi yang tinggi serta menghargai setiap perbedaan keberagaman keyakinan.

Pemerintah di setiap negara diajak untuk terus menerus mengampanyekan toleransi umat beragama, mempresentasikan masyarakat tentang pemahaman yang sempit dan di luar kontek, seperti konsep Jihad dan syariah.

Phobia kepada Islam, diawali dengan rasisme dan fanatisme.

Dalam konteks muslim di Eropa, Prof Tariq yang adalah cucu dari Hassan al-Banna, seorang pendiri Al-Ikhwan al Muslimun, mengatakan pada sore itu, kebangkitan pemikiran Islam harus dengan rekonsiliasi dimensi spiritual pada satu sisi, pada sisi lain, memperbarui komitmen dengan rasional dan kritis atau yang dia sebut dengan  Ijtihad dari sumber kitab suci di bidang hukum dan yurisprudensi atau dalam istilah Islam disebut, Fiqih.

Masalah Islamic Phobia, bisa diawali dengan masalah akidah dan ibadah. Perubahan bisa dikecam, dianggap berbahaya dan bid’ah.

Jadi, kenapa sekarang banyak orang yg phobia terhadap Islam, karena semua bermula dari diri masing-masing, yang kurang rasional dalam menerima ajaran.

Salah pengertian dalam pengajaran juga faktor penyebab terjadinya phobia terhadap Islam.

Pada kesempatan itu, Syaykh Al Zaitun juga memberi tausiyahnya.

Menurutnya, dari uraian Prof. Tariq, Syaykh menyimpulkan bahwa Prof Tariq menginginkan Islam berjalan sebaik-baiknya.

Islamic Phobia itu sudah berlangsung sejak zaman kenabian dahulu. Itu terus berputar hingga kini, “tak akan selesai’, ujarnya.

“IslamicPhobia, adalah gerakan yang abadi, yang akan terus ada selamanya, tidak akan ada hentinya,”imbuhnya.

Sekarang tinggal di mana posisi kita. Kita harus ada bekal, yaitu Huda (hadiyatullah, petunjuk ajaran ilahiyah).

Apakah kita berada di jalur lurus atau yang terbawa arus.

“Kalau kita tetap bertahan istiqomah di jalur lurus, itulah Jihad,” lanjut Syaykh.

Orang yang bisa menghadapi Islamphobia adalah orang yg sabar dan menjadikan orang-orang yang memusuhi Islam sebagai teman. Itulah toleransi, kata Syaykh.

Jihad dengan jiwa yang Rahmatan Lil Alamin dengan memegang teguh prinsip, budaya toleransi dan perdamaian,” tambahnya.
Untuk tetap teguh, Syaykh mengajak umat untuk sabar.

“Sabar itu seperti brotowali, kayu yang sangat pahit, tapi endingnya sangat baik” Jelas Syaykh di hadapan sekitar 800 an orang yang mengikuti acara zoom TopoBroto sore itu.

(Agusta Marzall)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 1100x250