PELUNCURAN BUKU “DI BALIK BINTANG – JAN DJUHANA DALAM INDUSTI MUSIK INDONESIA

PELUNCURAN BUKU “DI BALIK BINTANG – JAN DJUHANA DALAM INDUSTI MUSIK INDONESIA

Jakarta, M19 news.com. Bertempat di HardRock Cafe Jakarta, diluncurkan sebuah buku biografi perjalanan seorang produser musik yg legendaris, yg melahirkan bnyk musisi kenamaan negri sendiri, yaitu Jan Djuhana, atau biasa para musisi menyapa : pak Jan.

Dalam sejarah industri musik Indonesia, Jan Djuhana menjadi salah satu sosok yang tidak bisa diabaikan. Banyak lagu top yang sejak dulu hingga kini masih kita dengarkan tersaji berkat kepekaan dan kepiawaian Jan Djuhana. Dengan telinganya, dia “menangkap” potensi berbagai penyanyi/band yang lagu-lagunya bakal disambut khalayak umum. Sebut saja nama nama band dan penyanyi kenamaan Indonesia yang tidak lepas dari besutan ‘telinga tajam’nya, seperti Dewa 19, KLA Project, Sheila On 7, Padi, Ratu, Gigi, Cokelat. Glenn Fredly, Superman is Dead, Tasya, Hijau Daun, Elo, Pingkan Mambo, Tantowi Yahya dan banyak lagi.
Lewat buku Di Balik Bintang: Jan Djuhana dalam Industri Musik Indonesia, yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada Maret 2022, Jan Djuhana menceritakan pahit dan manis kariernya sejak 1970-an di balik dapur perekaman. Frans Sartono, dengan bantuan Herlambang Jaluardi, menuliskan kisah yang disampaikan Pak Jan, panggilan akrab Jan Djuhana, secara detail dalam buku itu. Dapat kita baca, misalnya, kehidupan awal dan masa kecil Pak Jan, usaha rintisan sebelum terjun ke industri musik hingga memiliki label perekaman sendiri, dan kisah pertemuan Pak Jan dengan banyak calon bintang.

Telinga tajam

The golden ears, begitu ia di sebut oleh banyak musisi & pengamat musik.
“Pak Jan itu terbiasa bikin kompilasi hit lagu-lagu Barat sejak 1980-an. Itu adalah ‘Sekolah Tinggi Ilmu Lagu Hit’. Jadi secara tidak langsung, sudah sah Pak Jan jadi ‘doktor’ bidang lagu hit. Terbukti, ‘Kangen’ dari Dewa19, yang saya sendiri kurang suka, menjadi lagu hit sepanjang masa,” begitu Ahmad Dhani memberikan kesannya terhadap Jan Djuhana.
Eross Candra, gitaris Sheila on 7, menilai Pak Jan sebagai sosok yang unik. Bagi Eross, cara Pak Jan mendengar musik berbeda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. “Beliau mempunyai nalar atau sense yang unik terhadap sebuah lagu. Akurasi dalam menilai hook lagu adalah kelebihan atau gift beliau,” ujar Eross.
Pada 1998, banyak produser perekaman yang menolak demo Sheila on 7. Namun, berbeda cerita ketika dia dan Adam Subarkah menemui Pak Jan. “Di antara produser yang menolak musik Sheila on 7, atau bahkan tidak mau menemui saya dan Adam, beliaulah satu-satuya produser atau artist and repertoire director yang bisa menangkap vibe musik Sheila on 7, tentunya juga berani mengambil risiko untuk Sheila on 7.” Dan ternyata ketajaman feeling pak Jan terbukti, So7 sukses besar di saat musik Indonesia tiarap krn negri dilanda kerusuhan pada 1998, justru So7 mencuat.

Setelah tidak lagi berada di Sony Music dan Universal, sejak 13 Mei 2019 Jan Djuhana mengibarkan JD Records, label perekamannya sendiri. Lewat JD Records, dia berprinsip mengembangkan penyanyi atau band-band baru yang berpotensi dari berbagai daerah. Dia lebih fokus menggarap artis-artis baru, meski tetap terbuka untuk penyanyi atau band lama.
“Saya juga terbuka untuk segala genre musik, sejauh kuat unsur popnya. Kami punya artis dengan lagu pop, hiphop, nuansa jaz, pop punk, sampai keroncong. Yang penting, saya tertarik dan menganggap berpotensi untuk dikembangkan,” ujar Pak Jan.
Diantara artis musisi pendatang baru yg sedang ia garap, ada group band T’KOES. Band muda kakak beradik ini yg padat jadwal manggungnya krn mereka membawakan atau mencover lagu2 lawas, khususnya bnyk membawakan tembang2 lawas dari Koes Plus. Pak Jan meyakini, mereka sangat berpotensi membawakan karya2nya sendiri. Maka, lewat JD Record, pak Jan merekrut T’koes dgn karya2 mereka sendiri.

Bersaing secara sehat
Tantowi Yahya memberikan kesaksian tentang betapa Pak Jan merupakan sosok yang memiliki totalitas dalam industri musik Indonesia. Hampir semua bidang dalam musik pernah digeluti Pak Jan, dari pemain band, distributor, produser, sampai peretail. “Dia begitu mencintai industri musik meski harus melalui banyak pasang surut…. Ini membuatnya menjadi figur paripurna,” ujar Tantowi.
“Ketika saya mempunyai label kecil bernama Ceepee Production dan Pak Jan sudah di Sony Music, saya tidak pernah khawatir penyanyi/grup yang diorbitkan Ceepee akan dibajak oleh Sony. Artis-artis yang diorbitkan oleh Pak Jan hampir semuanya pendatang baru, yang lewat polesannya kemudian menjadi superstar,” kata Tantowi.
Kesaksian Tantowi Yahya itu sejalan dengan apa yang dikatakan Sutanto Hartono, Direktur Utama Emtek dan CEO Surya Citra Media. Bagi Sutanto, yang merupakan Pendiri dan Direktur Utama pertama Sony Music Indonesia, Pak Jan adalah sosok yang mau merangkul semua kalangan. “Pak Jan selalu rajin menjaga hubungan ke semua kalangan pelaku industri musik…. Pak Jan menjadi sosok mentor kami yang senantiasa sangat ringan tangan untuk membagi berbagai ilmunya ke semua orang,” ucap Sutanto.

(AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *